Amat Sedikit Manusia Yang Bersyukur

AMAT SEDIKIT MANUSIA YANG BERSYUKUR

Oleh: Suprapto Estede

bersyukur suprapto estede

amat sedikit manusia yang bersyukur

Bersyukur itu artinya mengakui kebajikan. Bersyukur juga mengandung makna berterima kasih kepada pihak yang telah berbuat baik atas kebaikan yang diberikannya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah merumuskan adanya tiga hal yang harus ada dalam konteks makna syukur yang sebenarnya, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.

Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan nikmat-Nya yang tak terhingga kepada kita, hamba-Nya yang bernama manusia (QS. An-Nahl 18), dan akan melipatgandakan nikmat-Nya itu untuk manusia yang bersyukur serta sebaliknya: menyediakan azab-Nya yang amat pedih bagi manusia yang kufur, yang mengingkari nikmat-Nya (QS. Ibrahim 7).

Dari ayat-ayat qur’aniyah itu setidaknya dapat kita fahami beberapa hal. Pertama, kita manusia berkepentingan dan berkebutuhan untuk menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur karena syukur adalah amal yang mempunyai nilai amat tinggi. Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik telah memberi dan menjadi contoh dalam hal ini. Dalam sebuah hadits disebutkan, Nabi SAW senantiasa menunaikan shalat malam, hingga membuat kedua kaki beliau bengkak. Melihat hal itu, Siti Aisyah RA bertanya, “Mengapa engkau melakukannya, ya, Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” Nabi pun menjawab, “Tidak bolehkah aku bila menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari).

Kedua, kita berkepentingan untuk tidak mengingkari nikmat-Nya (kufur nikmat), karena kalau kita tidak bersyukur, maka Allah telah menyediakan azab-Nya, dan azab Allah itu amatlah pedih. Dari hal ini dapat juga difahami, bahwa manusia yang bersyukur akan terhindar dari azab-Nya (azab bagi manusia yang kufur nikmat). Dalam ayat lain Allah juga menegaskan, “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisa’ 147).

Ketiga, dari QS. Ibrahim 7 itu juga dapat difahami, bahwa meski telah diberikan petunjuk yang jelas dan lengkap, petunjuk tentang mana pilihan jalan yang benar, jalan yang lurus, tetapi tetap saja disamping ada manusia yang bersyukur ada pula manusia yang kufur (baca juga QS. Al-Insaan 3). Adanya manusia yang kufur itu tentu tidak lepas dari kesuksesan misi iblis, yang memang salah satu misi utamanya adalah selalu menjauhkan manusia dari syukur. “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. al A’raaf 17).

Dan celakanya, kebanyakan manusia justru tidak bersyukur alias kufur. Manusia yang bersyukur justru amat sedikit. Ini bukan perkiraan atau hasil sebuah penelitian. Tetapi Allah SWT sendiri yang mengatakannya. “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ 13). “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Ghaafir 61). Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Segala perkara dalam semua aspek kehidupan manusia adalah ujian, sehingga jelas siapa lulus dan siapa tidak lulus, dan jelas berapa nilai yang diperoleh masing-masing. Dalam hal nikmat Allah, manusia diuji apakah mengambil pilihan yang benar (syukur) dan mendapat balasan kebaikan, ataukah justru mengambil pilihan yang salah (kufur) dengan resiko mendapat balasan siksa yang tak terperikan.

Oleh karena itu, menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil. Selalu berikhtiar agar secara bertahap mampu menjadi manusia yang semakin syukur adalah sebuah keharusan dan kebutuhan. Dimulai dari upaya mengenal nikmat, yakni menghadirkannya dalam hati, dan meyakininya. Apabila seorang hamba sudah mengenal nikmat, maka ia akan mengenal pemberi nikmat itu, yakni Allah Azza wa Jalla. Selanjutnya hal demikian akan membuat manusia sadar bahwa nikmat yang diterima dari Allah itu bukan lantaran ia berhak mendapatkannya, melainkan semata-mata karena anugerah atau kemurahan dan kasih sayang Allah, sehingga manusia akan memuji dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat-Nya tersebut.

Implementasi dari rasa syukur itu bentuknya bisa beragam. Mulai dari niat (karena Allah) dan segala perbuatan dalam rangka beribadah yang dilandasi iman serta segala amal shalih atau kebaikan yang dilakukan dengan tulus semata-mata karena Allah, adalah implementasi dari syukur. Menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa dan beribadah haji serta amal-amal ibadah lainnya, adalah wujud dari rasa syukur. Jadi, syukur adalah inti dari ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dalam ikhtiar menanamkan rasa syukur itu kita juga harus bisa selalu melihat ke atas dalam urusan akhirat dan melihat ke bawah dalam urusan dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi).

Syukur, juga menumbuhkan perasaan positif yang luar biasa. Manusia yang pandai bersyukur akan selalu diliputi oleh perasaan dan fikiran cukup, tenang, bahagia, dan selalu termotivasi untuk berterima kasih dan memuji Allah. Oleh karena itu, seharusnyalah kita selalu berusaha menjadi orang yang banyak bersyukur, menjadi bagian dari kelompok kecil manusia yang bersyukur, dan tidak menjadi bagian dari kelompok besar manusia yang kufur.

Marilah kita syukuri segala nikmat Allah yang telah dan akan terus dilimpahkan kepada kita. Jika kita ingin memiliki hati yang tenang dan berbahagia, maka bersyukurlah. Janganlah kita menunggu datangnya perasaan bahagia terlebih dulu baru kemudian bersyukur, tetapi bersyukurlah terlebih dulu, maka kita akan berbahagia!

[Jika ada kebenaran dalam tulisan ini maka kebenaran itu datangnya dari Allah. Dan jika terdapat kesalahan atau kekhilafan didalamnya, maka itu adalah kelemahan penulis. Semoga bermanfaat.]

Related Post

Leave Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *