Menyambut Fenomena Alam Luar Biasa

Menyambut Fenomena Alam Luar Biasa (Gerhana Matahari Total)
Oleh: Suprapto Estede

Gerhana Matahari Total

ketika gerhana maka berdzikir, berdoa, bertakbir, bersedekah, dan shalatlah

DENGAN ilmunya manusia jauh-jauh hari sudah mampu menghitung bahwa pada bulan ini, tepatnya hari Rabu, 9 Maret 2016 akan terjadi fenomena alam yang luar biasa, yang amat menakjubkan, yang hanya bisa disaksikan di nusantara, yaitu Gerhana Matahari Total (GMT).

Karena sudah diketahui jauh hari sebelumnya, maka sudah banyak rencana dan persiapan dibuat untuk menyambut peristiwa langka itu, khususnya di 12 propinsi di republik kita ini, yang dilalui daratannya atau dapat menyaksikan peristiwa GMT secara sempurna.

Di Makassar misalnya, sekitar 10 ribu pelajar akan memadati anjungan Pantai Losari mengikuti kegiatan unik bernuansa religius bernama festival “Battu Rattema Ri Bulang” (Saya sudah pernah ke Bulan). Di Sulawesi Barat ada kegiatan yang mengkolaborasi semua kekayaan budaya di wilayah Sulbar dengan festival matahari “Sikammun” di anjungan Pantai Manakarra Mamuju, Sulawesi Barat.

Karena peristiwa GMT juga menarik banyak wisman (wisatawan mancanegara), maka pemerintah Jambi menyiapkan Paket Wisata “Jelajah Suku Anak Dalam” di Sorolangun dan Muara Jambi. Sedangkan Kota Palangka Raya bakal menyuguhkan tradisi ritual “Balian Ba Ampar-Ampar”, semacam tradisi adat Dayak di Kalimantan Tengah. Dan masih banyak lagi beragam aktivitas telah disiapkan oleh berbagai daerah lainnya untuk menyambut GMT 2016 ini.

Semua aktivitas itu adalah dalam rangka memanfaatkan GMT 2016, fenomena alam yang merupakan “bonus istimewa” yang dianugerahkan oleh Allah SWT khusus kepada bangsa Indonesia. Indonesia yang sudah dikenal kekhasan, keunikan dan keragaman budaya dan kawasan pariwisatanya memang harus menangkap momen amat bagus ini dengan cara dan kemasan yang sebaik-baiknya guna mempromosikan “Wonderful Indonesia”.

Akan tetapi, sebagai bangsa yang religius, tentu kita tidak boleh memandang peristiwa GMT ini hanya dari sudut kepentingan budaya dan ekonomi semata. Kita meyakini bahwa GMT adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda berupa bagian dari alam semesta dan pengaturannya yang amat teratur dan sempurna, yang menjadi bukti keagungan dan kebesaran Penciptanya.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)

Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, hendaknya berdzikir pada Allah.” (HR Bukhari). Dalam riwayat lain, dari Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: “…..Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.” (HR Bukhari Muslim).

Gerhana matahari pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW pada hari yang sama dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Ketika itu, banyak yang mengira bahwa gerhana itu berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun mengajarkan amalan-amalan yang dianjurkan saat terjadinya gerhana dan meluruskan pandangan masyarakat bahwa gerhana tidak berhubungan dengan kelahiran ataupun kematian seseorang.

Dari ayat qur’aniyah dan hadits tersebut setidak-tidaknya kita (kaum Muslimin) memperoleh petunjuk dan yakin bahwa GMT adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan ketika kita melihatnya atau mengalami peristiwanya, kita diperintahkan untuk berdzikir, berdoa, bertakbir, bersedekah, dan shalat.

Berdzikir adalah banyak mengingat Allah dalam hati dan lisan, melafazkan kalimah-kalimah thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, dan lain-lain), termasuk membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, serta berdzikir dalam amal atau perbuatan. Dalam berdzikir juga termasuk berfikir, memikirkan tentang kerajaan langit, bumi, dan seisinya, khususnya GMT, yang merupakan ciptaan-Nya yang amat menakjubkan, akan menumbuhkan benih kekaguman dan kecintaan kepada Sang Pencipta sekaligus Arsiteknya, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Berfikir juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa semua bagian dari sebuah sistem semesta ini berjalan dengan eksak, kokoh, teratur, rapi, dan harmonis, yang tidak akan ada habisnya menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk menerima bahwa hukum-hukum itu adalah sunnatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya, yang menjadi bukti kebesaran-Nya sekaligus kasih sayang-Nya kepada manusia.

Dengan berfikir, diatas landasan iman, kita juga akan menyadari bahwa terjadinya gerhana itu bukan faktor kebetulan, apalagi karena adanya mitos-mitos khurafat dan tahayul.

Juga diajarkan kepada kita untuk banyak berdoa (dan beristighfar), bertakbir, bersedekah, dan shalat. Para ulama telah sepakat, bahwasanya shalat gerhana (kusuf atau khusuf) adalah sunnah muakkadah (sunah yang ditekankan) bagi kaum laki-laki maupun wanita, dan afdhalnya dilakukan secara berjamaah, meski berjamaah itu bukan menjadi syarat sahnya shalat gerhana. MUI juga telah menghimbau agar ummat Islam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan dua rukuk dan dua sujud di setiap rakaatnya itu.

Semoga kita bisa bertadabbur dan mengambil hikmah dari peristiwa GMT ini.**

Suprapto Estede adalah Dosen/Lektor Kepala di STIE Cendekia.
Sumber:
Radar Bojonegoro, Jawa Pos, Minggu, 6 Maret 2016 Halaman 26 Kolom 2-5.

Related Post

Leave Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *